Editor : Naufal A.Y - @copongg
Malam ini, aku duduk termenung dikamar dengan jendela terbuka dan memikirkan sesuatu yang membuatku gundah selama hampir sebulan. Entah ini disebut perasaan apa, Secret Admirer?? Bukan karena aku bukan memuja dia secara rahasia. Sasa, kenapa sih setiap ketemu kamu.. Kamu terkadang buat hariku cerah, tetapi terkadang buat hidupku hitam kelam.
Oh iya kenalin nama aku Beny Wijaya, aku sekolah disalah satu SMP dikota Depok, ini adalah cerita tentang seorang wanita yang setiap hari selalu muncul dibenak aku, aku tidak tahu ini cinta, sayang atau malah memuja dia, Tapi yang aku tahu aku senang melihat dia bahagia, aku senang melihat tingkah lucu dan konyolnya itu. Dan tak ketinggalan betapa senangnya setiap pagi saat akan masuk sekolah aku disuguhkan dengan pemandangan indah dari tarikan kanan dan kiri bibirnya serta sapaan lembut yang membuat pikiran runyam menjadi begitu teduh.
Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya, dengan gembira aku lompat dari tempat tidur dan siap menghadapi hari ini. Ya, hari ini awal pertama aku naik ke kelas 8. Sesampainya disekolah, pikiranku pun bercampur aduk dalam hati aku bergumam “akankah aku masuk kelas yang menyenangkan, atau aku akan terje ebak dalam kelas yang membosankan” sambil berjalan aku masih menerawang. “DAAARRR” dalam lamunan itu, aku dikagetkan oleh Louis teman sekelasku dulu yang sama-sama masih mencari letak kelas baru.
“Kok lo bengong aja?”
“Iya nih lagi bingung, kelas 85 dimana ya?”, ucapku dengan perasaan gelisah.
“Oh itu disitu”, kata Louis sambil menunjuk kearah kelas 85.
“Oke, terimakasih” ucapku sambil berlalu.
Sekitar jam 06.45 aku sampai dikelas baru, banyak pemandangan asing dimata aku. Lalu, aku duduk menuju bangku paling belakang sebenarnya bukan tujuanku duduk dibangku ini. Tapi, mau diapakan lagi aku sudah tidak masuk selama satu minggu karena sakit jadinya begini. Seperti biasa aku berkenalan dengan teman-teman baru. Aku berkenalan dengan seorang teman yang humoris dengan ketawanya yang khas sebut saja namanya Deden, dia duduk tepat didepan bangku ku.
“Kok lo bengong aja?”
“Iya nih lagi bingung, kelas 85 dimana ya?”, ucapku dengan perasaan gelisah.
“Oh itu disitu”, kata Louis sambil menunjuk kearah kelas 85.
“Oke, terimakasih” ucapku sambil berlalu.
Sekitar jam 06.45 aku sampai dikelas baru, banyak pemandangan asing dimata aku. Lalu, aku duduk menuju bangku paling belakang sebenarnya bukan tujuanku duduk dibangku ini. Tapi, mau diapakan lagi aku sudah tidak masuk selama satu minggu karena sakit jadinya begini. Seperti biasa aku berkenalan dengan teman-teman baru. Aku berkenalan dengan seorang teman yang humoris dengan ketawanya yang khas sebut saja namanya Deden, dia duduk tepat didepan bangku ku.
Seminggu berlalu aku masih menerawang nasibku dikelas 8 ini. Setelah cukup berkenalan dan mengenal lebih jauh kelas 85 ini aku pun mulai dapat menyesuaikan diri dengan mereka. Ternyata kebiasan mereka tak jauh berbeda seperti teman-temanku dikelas 7, ya seperti mengerjakan pr disekolah kalau ada guru keluar dan berisik di kelas tak bisa dipungkiri akupun seperti itu. Bel istirahat berbunyi, aku masih menatap seorang perempuan diseberang sana yang berjarak sekitar 3 meter dariku. Perempuan yang menurutku biasa saja, aku heran mengapa banyak teman laki-laki sekelasku menyukainya. “Dia memang manis sih, juga pintar,cantik,baik, Tapi gak terlalu special ah.” Gumamku ketika itu.
Selang beberapa bulan.. Hari itu ada perganti posisi duduk dan diatur secara acak oleh wali kelasku, aku duduk dengan Deden dan belakangku ada Rina dan Sasa.
Iya, Sasa wanita yang disukai beberapa teman sekelasku. Rina dan Sasa sama-sama wanita yang rajin dan pintar, Aku sedikit merasa minder dan malu tapi ternyata Rina adalah sosok yang friendly jadi tak begitu susah untuk dekat dengannya sedang Sasa adalah sosok pendiam, tak banyak bicara kepada orang yang baru dikenalnya. Aku lalu mencoba mendekati Sasa yang nampak tak banyak bicara “Sa, udah ngerjain pr mtk?”, “Belum nih, kamu udah?”, “Belum juga, hehehe.” Dari percakapan basa-basi itulah yang lama-kelamaan dan mencairkan suasana antara kita bereempat yaitu aku, Deden, Rina, dan Sasa.
Walaupun awalnya aku cenderung lebih dekat ke Rina tapi lama-kelamaan, ternyata ngobrol sama si Sasa ini asik juga. Hubungan persahabatan kita berempat pun semakin dekat. Aku sering meledek Rina dan si Deden yang nampaknya mereka berdua saling suka, setiap meledek mereka berdua aku dibantu oleh Sasa. Iya, nampaknya aku dan Sasa partner yang klop untuk meledek mereka berdua apa lagi kalau muka deden sama si rina udah merah haha bikin ketawa . Tanpa disadari hubunganku dan Sasa semakin dekat, ketika aku bermain botol dengan Ari selalu Sasa dan Epi merecokki kami berdua Sasa nampak bahagia sekali saat merusak dan menginjak-nginjak botolku ekspresi lepas diwajahnya dapat kutangkap, iya terlihat manis sekali! Dari situlah aku berfikir ada yang beda dari Sasa dan wanita lain yang pernah ku kenal. Ia unik dan berbeda ternyata sosok yang selama ini kukira pendiam dan pintar senang melakukan tingkah laku konyol dan lucu.
Tidak terasa aku dan Sasa semakin dekat sampai teman-teman dikelas meledekku mereka bilang aku pacaran dengan Sasa, padahal aku dan Sasa hanya sebatas teman dan perasaanku biasa saja terhadapnya ketika itu. Aku lupa persisnya kapan hari itu aku mengirim SMS kepada Sasa kudapat nomornya dari Rina. Beginilah kira-kira percakapan kami berdua:
“Hai Sasa...”
“Maaf ini siapa?”
“Hai Sasa...”
“Maaf ini siapa?”
“Ini Beny kelas 85”
“Hah serius? Bohong ya?”
“hmmmm”
“Bohong ya?”
dari situ aku dapat mengetahui nampaknya dia senang sekali dan nampak tak percaya saat aku sms dia entah mungkin aku hanya geer.”Maklum jomblo mah gampang ke geeran K”
“Hah serius? Bohong ya?”
“hmmmm”
“Bohong ya?”
dari situ aku dapat mengetahui nampaknya dia senang sekali dan nampak tak percaya saat aku sms dia entah mungkin aku hanya geer.”Maklum jomblo mah gampang ke geeran K”
Pagi harinya aku menyapa Sasa disekolah.
“Pagi Sasa......”, dengan senyum lebar aku menyapanya.
“Pagi juga, eh btw semalem kamu sms aku ya ben?”, Ucap Sasa dengan penuh tanda tanya.
“Hmmmm, engga tuh salah orang kali”, aku mencoba meledeknya.
“Ah, kamu pasti bohong aku tahu kok. wlee”, Yah nampaknya dia sudah tahu, biarlah.
Aku lanjut meledeknya sambil bercanda dan tertawa seperti biasanya dan aku selalu menanyakan apa dia sudah mengerjakan pr atau belum. Dan jawabannya selalu sudah Sasa memang anak yang rajin inilah yang menambah nilai plus pandanganku terhadapnya. Walaupun begitu aku masih belum ada perasaan apa-apa kepada dia.
“Pagi Sasa......”, dengan senyum lebar aku menyapanya.
“Pagi juga, eh btw semalem kamu sms aku ya ben?”, Ucap Sasa dengan penuh tanda tanya.
“Hmmmm, engga tuh salah orang kali”, aku mencoba meledeknya.
“Ah, kamu pasti bohong aku tahu kok. wlee”, Yah nampaknya dia sudah tahu, biarlah.
Aku lanjut meledeknya sambil bercanda dan tertawa seperti biasanya dan aku selalu menanyakan apa dia sudah mengerjakan pr atau belum. Dan jawabannya selalu sudah Sasa memang anak yang rajin inilah yang menambah nilai plus pandanganku terhadapnya. Walaupun begitu aku masih belum ada perasaan apa-apa kepada dia.
Jumat malam, Aku menelepon Sasa awalnya dia hanya ingin bertanya tentang pr tapi lama kelamaan kita saling sharing dan bercerita tentang segala hal, Sasa mulai mencoba curhat kepadaku lalu aku mendengar dan coba menasehatinya. Dalam percakapan ditelpon malam itu kami berdua saling tertawa dan penuh kebahagiaan sampai larut malam aku masih dengan senangnya mendengar suara Sasa. Tak terasa jam 12 malam terlewat percakapan ditelpon dengannya pun masih berlanjut sambil terjaga atau setengah ngantuk aku mendengar dan berbicara padanya. “untung besok libur jadi tak apalah tidur larut malam, pikirku” tiba-tiba tanpa disangka-sangka ada bunyi “Tuuut..tuuu..tuuut” loh kok mati ,cek jaringan hp ku masih full, pas cek pulsa ternyata pulsa ku abis. Sasa berungkali mengirim sms menanyakan apa yang terjadi tapi aku tidak bisa membalas pesan tsb, Ah sudahlah toh masih bisa besok yang penting malam ini aku senang sekali bisa mendengar suara Sasa lewat telpon.
Ternyata malam itu sampai terbawa mimpi tentang Sasa! “Mimpi itu sih menceritakan aku menjadi romeo salsa menjadi juliet, susah buat di gambarin mimpi itu buat ku teringat terus tetang salsa”
Ternyata malam itu sampai terbawa mimpi tentang Sasa! “Mimpi itu sih menceritakan aku menjadi romeo salsa menjadi juliet, susah buat di gambarin mimpi itu buat ku teringat terus tetang salsa”
Hal itu membuatku semakin dekat dan semakin dekat lagi dengan Sasa, ia semakin terbuka dan semakin sering bercerita tentang hal apapun kepadaku. Hingga suatu hari aku mendapati sehabis olahraga Sasa tak se-ceria seperti biasanya ia tampak murung sendirian ditempat duduknya. Dengan menatap matanya begitu dalam dan bertanya,
“Sasa kamu kenapa? Kok tumben diam saja, kamu sakit ya”
“Ah engga kok, aku cuma lagi pengen sendiri aja”
“Bener kamu nggak papa? Cerita aja sama aku kalo ada apa-apa?”
“Ia nggak papa kok”, Ia meyakinkanku sambil tersenyum.
Namun ada yang mengganjal di hati ini, “Ya tuhan aku tidak pernah sedalam ini menatap perempuan selain ibuku” atau jangan-jangan aku ada rasa dengan......
ah sudahlah lupakan, gumamku. Bel istirahat berbunyi ia masih nampak begitu murung aku mau menanyakan lagi ada apa dengannya, malu nanti dikira aku suka dengannya.
“Sasa kamu kenapa? Kok tumben diam saja, kamu sakit ya”
“Ah engga kok, aku cuma lagi pengen sendiri aja”
“Bener kamu nggak papa? Cerita aja sama aku kalo ada apa-apa?”
“Ia nggak papa kok”, Ia meyakinkanku sambil tersenyum.
Namun ada yang mengganjal di hati ini, “Ya tuhan aku tidak pernah sedalam ini menatap perempuan selain ibuku” atau jangan-jangan aku ada rasa dengan......
ah sudahlah lupakan, gumamku. Bel istirahat berbunyi ia masih nampak begitu murung aku mau menanyakan lagi ada apa dengannya, malu nanti dikira aku suka dengannya.
Malam hari setelah kejadian itu aku berfikir, mengapa aku bisa begitu perhatian terhadapnya lebih dari perhatianku kepada teman wanita lain dan mengapa hatiku berasa bergetar saat berbicara dengannya tadi. Apa jangan-jangan aku mulai jatuh cinta padanya, hmm... aku rasa aku hanya sebatas kagum dan terpesona. namun aku coba untuk merahasiakan ini pada siapapun. Keesokan harinya juga tak berubah aku dan Sasa masih sering ngobrol dan bercanda gurau tapi biasanya sih kita bercanda berempat, saat-saat seperti ini aku suka meledek Rani dan Deden aku dan Sasa selalu tertawa saat meledek mereka berdua. Kadang aku sering belajar dan berdiskusi bersama dengan mereka semua ini adalah momen paling menyenangkan disekolah dengan 2 sahabatku dan seorang yang aku kagumi.
Sasa oh Sasa, dikelas kami berdua sering surat-suratan dan bertingkah laku konyol ya walaupun aku sebagai lelaki sejati merasa sedikit malu dengan teman-teman dikelas tapi tak apalah, demi kebahagiaan Sasa. Yang ada dipikiranku selalu Sasa, setiap pagi-pagi sebelum masuk sekolah aku selalu mencuri pandanganku kearah pintu kelas menanti kedatangan dirinya. Dan betapa bahagianya ketika dia muncul dan menebarkan senyum kearahku. Istirahat tiba, ketika berbincang dengan Deden, aku mencoba melempar pertanyaan basa-basi kepadanya,
“Den kalo gue boleh tanya diantara cewek kelas ini ada yang lo sukain nggak?” Tanyaku.
“Engga ben, sebenernya tuh gue suka sama kakak kelas. Kalo lo? Apa lo jangan-jangan suka sama.....”
Lalu aku memotong omongan Deden.
“hussstt udah stop, jangan ngaco deh gue sama dia cuma temen kok lagian gue nggak suka tuh” Kataku sambil melakukan pembelaan padahal sebetulnya kalo aku memang ada rasa sama dia.” Entah antara cemburu atau apa kalau dia deket banget sama cowok lain, hati ini terasa rapuh
Sudahlah biar kusimpan rasa ini sendiri. Entah mengapa teman-teman semakin sering meledekku mereka mengira aku dan Sasa saling suka tapi aku bersikap sok cuek. Keesokan harinya aku bertanya dengan Rina karena dia adalah seorang perempuan jadi pasti dia mengerti tentang perasaan perempuan itu bagaimana, pikirku.
“Eh Rin kalo cewek udah sering curhat dan ngasih kepercayaan gitu sama cowok, apa bisa dibilang dia suka sama cowok itu?”
“Bisa jadi”, jawab Rina singkat.
“Terus si cewek juga baik banget dan perhatian sama tuh cowok”, ungkapku agak sedikit curcol, hehehe.
“Emangnya siapa sih ceweknya dan siapa cowok yang lo maksud Ben?”
“Ceweknya itu si Rina dan Cowoknya Gue”, Aku teriak dalam hati. Secara langsung aku tidak menjawab apa-apa karena aku sedikit jaim untuk mengungkapkan ini.
“Woy Ben bengong aja!!!!” Rina mengagetkanku yang sedang termenung.
“Hehehe, maaf maaf. Sampai mana tadi?”
“Itu elo belom jawab pertanyaan gue yang tadi?”
“Oh itu, ada deh itu mah rahasia Rin.”
“Den kalo gue boleh tanya diantara cewek kelas ini ada yang lo sukain nggak?” Tanyaku.
“Engga ben, sebenernya tuh gue suka sama kakak kelas. Kalo lo? Apa lo jangan-jangan suka sama.....”
Lalu aku memotong omongan Deden.
“hussstt udah stop, jangan ngaco deh gue sama dia cuma temen kok lagian gue nggak suka tuh” Kataku sambil melakukan pembelaan padahal sebetulnya kalo aku memang ada rasa sama dia.” Entah antara cemburu atau apa kalau dia deket banget sama cowok lain, hati ini terasa rapuh
Sudahlah biar kusimpan rasa ini sendiri. Entah mengapa teman-teman semakin sering meledekku mereka mengira aku dan Sasa saling suka tapi aku bersikap sok cuek. Keesokan harinya aku bertanya dengan Rina karena dia adalah seorang perempuan jadi pasti dia mengerti tentang perasaan perempuan itu bagaimana, pikirku.
“Eh Rin kalo cewek udah sering curhat dan ngasih kepercayaan gitu sama cowok, apa bisa dibilang dia suka sama cowok itu?”
“Bisa jadi”, jawab Rina singkat.
“Terus si cewek juga baik banget dan perhatian sama tuh cowok”, ungkapku agak sedikit curcol, hehehe.
“Emangnya siapa sih ceweknya dan siapa cowok yang lo maksud Ben?”
“Ceweknya itu si Rina dan Cowoknya Gue”, Aku teriak dalam hati. Secara langsung aku tidak menjawab apa-apa karena aku sedikit jaim untuk mengungkapkan ini.
“Woy Ben bengong aja!!!!” Rina mengagetkanku yang sedang termenung.
“Hehehe, maaf maaf. Sampai mana tadi?”
“Itu elo belom jawab pertanyaan gue yang tadi?”
“Oh itu, ada deh itu mah rahasia Rin.”
Sasa oh sasa rasanya aku ingin teriak depan kamu supaya kamu sadar dan kamu mengerti kalo aku suka sama kamu, walaupun sebenernya kamu sudah punya pacar aku cuma ingin mengungkapkan perasaan ini. Tapi rasanya nggak mungkin pasti kamu cuma berfikir kita sebatas teman dekat/sahabat kan. Kamu nggak peka atau nggak perduli sih? Kamu nggak punya otak atau nggak punya hati? Aku selalu ada buat kamu saat kamu sedih karena ulah pacarmu itu aku selalu meluangkan waktuku untuk mendengar curhatan darimu. Tapi, yasudahlah toh kamu nggak nganggep aku special kan. Itulah yang ada dalam benakku malam sabtu yang penuh gejolak batin.
Aku melihat dan mendengar bahwa kamu putus dengan pacarmu, Ah senangnya diriku ini. Aku merasa perjuangan dan pulsa yang kuhabiskan selama ini untukmu tidak sia-sia, malamnya aku begadang membuka blog pribadiku dan dalam pikiranku rasanya aku ingin mencurahkan perasaanku ini lewat blog iya aku mem-posting sebuah puisi buatanku sendiri berisi tentang kekagumanku terhadapmu yang awalnya kutulis dinotepad. Aku menceritakan hal ini pada Rina sekalian aku meminta pendapatnya tentang puisi yang baru kubuat, beberapa menit kemudian Rina membalas chat-ku difacebook, isinya: “Cie cie yang lagi falling ini love, sama siapa tuh? Btw puisi lo keren ben!!” tanpa disangka ternyata postinganku pun banyak di views oleh oranglain dan mendapat banyak respon positif dari para blogger lain yang memberi komentar. Aku semakin bangga saja dengan puisi yang kubuat ini sampai besoknya aku mencoba memberanikan diri menyuruh Sasa untuk membaca puisi dihalaman blogku.
Ternyata tanggapan Sasa lewat sms, dia mengira puisi itu aku tujukan buat Rina padahal sebenarnya puisi itu buat dia. “Ah, Sasa kapan sih kamu ngerti ,peka dong saa.” gumamku. Setelah Sasa membaca puisiku pun semua masih seperti hari-hari sebelumnya tetap tidak ada canggung untuk berbicara dan bercengkrama dengannya dia nampak tidak peka. Aku betul-betul merasa seorang secret admirer yang kehilangan arah sekarang, “sahabat” adalah status yang menutupi rahasiaku bahwa aku suka pada Sasa. Saat itu aku semakin sering sms dan telponan dengannya terkadang aku duluan yang memulainya atau terkadang juga dia yang memulainya.
“Aku ingin menembak Sasa” tapi rasanya aku harus mengubur niat ini dalam-dalam, karena aku dengan Sasa sedang dekat dengan kakak kelas yang jauh lebih tampan, keren, dan lebih segala-galanya dariku. Aku minder, beberapa minggu ini aku tidak membalas sms dan menjawab telpon darinya aku masih memikirkan gimana caranya dapetin Sasa.
Hingga akhirnya, aku memberanikan diri untuk cerita kepada Deden bahwa yang sebenarnya aku alami dan aku rasakan saat ini. Ternyata dia mengetahui kalau aku suka dengan Sasa dan dia merasa Sasa juga sebaliknya,
“Kenapa nggak lo tembak aja ben?”, Deden coba memancing.
“Kenapa nggak lo tembak aja ben?”, Deden coba memancing.
“Nah itu dia masalahnya, sebetulnya juga gue pengen nembak dia tapi katanya dia lagi deket sama cowok yang lebih keren dari gue Den.”
“Yaelah, lo sebagai lelaki jangan mudah menyerah gitu dong. Ungkapin aja perasaan lo jangan payah.” Deden memberi motivasi.
“Yaelah, lo sebagai lelaki jangan mudah menyerah gitu dong. Ungkapin aja perasaan lo jangan payah.” Deden memberi motivasi.
“Iya sih Den, terimakasih banyak ya udah mau dengerin gue curhat.”
“Oke Ben, sebenarnya gue juga lagi mengalami apa yang lo alamin sekarang, hehehe.”
“Jadi percuma aja dia ngasih motivasi gitu toh dia aja nggak berani juga nembak cewek yang dia suka, pikirku” Ah si Deden makin membuatku tambah galau saja.”
“Tak terasa sudah 2 semester kami lewati bersama, ujian kenaikan kelas pun di mulai hari ini.
“Semaleman baca buku sampai ketiduran, biarin lah yang penting besok bisa ngerjain ulanganya dengan lancar. Ujian pun dimulai saat aku mencari bangku dengan nomor urut absen yang sudah di tentukan. Sempet bingung juga sih, eh akhirnya ada perempuan yang manggil buat ngasih tau tempat duduku, ternyata si sasa cewek yang aku sukai. Ternyata aku duduknya di belakang sasa, saat itu awal ulangan mata pelajaran ****, hari demi hari di lewatin walaupun agak bingung dengan soal soalnya yang penting di isi K akhirnya ujian yang terakhir, “Terasa lega dan seneng juga bisa selesain ulangan dengan lancar, tinggal nunggu pengumuman deh.” Kami di liburkan sekitar 2 minggu, lalu penggumuman kenaikan kelas. Huftt
“Akhirnya kenaikkan kelas 9 hampir tiba, ada hal yang mengagetkan membuat hatiku terkoyak. Ternyata Sasa jadian sama kakak kelas yang sebelumnya sudah kuduga karena dia memang lebih keren dariku jelas saja Sasa memilih dia. Beginikah rasanya jadi Secret Admirer? Oh tuhan, sekarang akupun menjadi stalker yang setiap saat mengecek akun pribadi jejaring sosial Sasa. Setiap melihat halaman akunnya aku sampai tak mengedipkan mata demi mengecek kata per kata yang ia share, supaya aku tahu perkembangan terbaru Sasa.
Walaupun Sasa jadian sama cowok lain tapi nggak papa lah, yang penting masih bisa berhubungan dan berkomunikasi sama dia aja rasanya udah seneng banget. Aku juga masih tetap setia mendengar keluhan yang dilontarkannya terhadapku dan dengan bijak aku selalu mencoba menghibur dia. Ada pelajaran yang bisa diambil “Jangan jadi secret admirer, selagi masih ada waktu dan masih ada kesempatan ungkapkan, ungkapkan, dan ungkapkan sekarang juga jika kalian suka sama cewek/cowok.” Mungkin sampai cerita ini ku ketik Sasa masih belum tahu apa yang sebenarnya aku rasakan dan aku simpan dalam hati ini. Aku yakin suatu hari kita akan bertemu lagi Sasa aku yakin suatu hari kita akan menjadi seorang kekasih bagai 2 ekor merpati yang terbang bebas diudara sebebas-bebasnya.
Memang terkadang Cinta itu lebih indah datang pada waktunya
Tapi aku menunggumu sampai saat ini, dan masih menunggu
Tapi aku menunggumu sampai saat ini, dan masih menunggu
You’re my sweetheart Sasa..

EmoticonEmoticon